Mengapa orang ngeblog?
Sepuluh tahun yang lalu, blog hanyalah sekumpulan tulisan kecil dan personal dan orang-orang hanya menulis tentang minat, hobi serta hidup mereka. Tidak ada pikiran menjadi jutawan melalui blog atau bahkan berubah jadi terkenal.
Itu dulu, bagaimana dengan sekarang, demi apa orang-orang ngeblog ? Sebagian besar alasannya karena :
1. Passion
2. Berbagi dengan orang lain
3. Bisnis
4. Ekspresi Diri
5. Mengedepankan ide-ide baruAlasan-alasan lainnya ada yang karena ingin membuat dokumentasi, atau sekedar menghabiskan waktu. Bisa juga karena ingin meningkatkan kemampuan menulisnya, atau juga karena ingin bersosialisasi
Kunjungi:
http://blessing4-myfamily.blogspot.com/
Blessingfor Myfamily
Keluarga yg diberkati
Rabu, 14 November 2012
Fwd: Kunjungi: http://blessing4-myfamily.blogspot.com/
Fwd: cintaku pd Tuhan
A. PERSEMBAHAN KASIH MARIA
YOHANES 12 : 3 Maka Maria mengambil setengah kati minyak narwastu murni yang mahal harganya, lalu meminyaki kaki Yesus dan menyekanya dengan rambutnya; dan bau minyak semerbak di seluruh rumah itu.
MINYAK NARWASTU = MAHAL HARGANYA ! Ini ungkapan Maria yang berarti :
- Memberikan yang TERBAIK buat Tuhan.
- Ungkapan KASIH Maria kepada TUHAN.
MENGAPA MARIA MEMPERSEMBAHKANNYA ?
- Karena Maria selalu mendengar apa yang dikatakan oleh Tuhan Yesus. Tentang keselamatan, KasihNya dan bagaimana Dia harus mati di atas kayu salib.
- Maria mengerti betul bahwa YESUS akan mati untuk menebus dosa-dosanya.
BAGAIMANA DENGAN KITA ? Adakah kita memberikan yang terbaik sebagai wujud cinta mati kita ? dan DIA SUDAH menebus dosa-dosa kita ?
PERSEMBAHKAN YANG TERBAIK BUAT TUHAN !
B. MENGERTI KASIHNYA TUHAN
MARKUS 14 : 8 Ia telah melakukan apa yang dapat dilakukannya. Tubuh-Ku telah diminyakinya sebagai persiapan untuk penguburan-Ku.
Ada lagu :
Mengasihi mengasihi lebih sungguh ..
Mengasihi mengasihi lebih sungguh …
TUHAN MENGASIHI LEBIH DULU kepadaku
Mengasihi mengasihi lebih sungguh …
Maria mengasihi Tuhan karena ia tahu bagaimana Tuhan akan menebusnya. Tetapi Maria tahu bahwa Tuhan-lah yang LEBIH DULU MENGASIHI dirinya. Sebab itulah Maria memberikan persembahannya dan meminyaki Tuhan Yesus.
Tetapi murid yang lainnya (Yudas) wujud mengasihi Tuhan dianggap "pemborosan" !! Artinya mereka belum mampu sepenuhnya untuk mengasihi Tuhan.
ADAKAH KITA saat mewujudkan kasih kepada Tuhan menganggap sebagai pemborosan ? Kita jawab : TIDAK !! … Kami selalu mengasihi Tuhan sepenuhnya … !! (Kita ucapkan bersama-sama dengan kasih )
C. INTI DARI INJIL !!
MARKUS 14 : 9 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya di mana saja Injil diberitakan di seluruh dunia, apa yang dilakukannya ini akan disebut juga untuk mengingat dia."
- Inti dari tujuan Injil ini dilakukan oleh Maria.
- Maria mempersiapkan harinya TUHAN
- Ketika Yesus mati disalibkan … Akhirnya murid-muridNya mengerti apa yang telah dilakukan oleh Maria adalah wujud "cinta matinya kepada Tuhan".
- Murid-murid yang lain berikutnya mewujudkan cinta matinya pada Tuhan. Memberitakan Injil ke seluruh dunia dan rela mengorbankan nyawanya demi pemberitaan Injil Kristus.
KESIMPULANNYA : Kita adalah jemaat Tuhan yang diminta untuk memiliki pujian dan penyembahan sebagai wujud cinta mati kita pada Tuhan… Ingat Tuhan lebih dahulu setia dan mati untuk kita !
======================================================================================================
APAKAH FA (FAMILY ALTAR) ITU ?
Suasana KELUARGA haruslah terasa dalam FA, karena "kamu bukan lagi orang asing dan pendatang, melainkan kawan sewarga dari orang-orang kudus dan anggota-anggota keluarga Allah," (Efesus 2:19).
Dan melalui FA, biarlah keselamatan terjadi atas seisi rumah kita. "Jawab mereka: "Percayalah kepada Tuhan Yesus Kristus dan engkau akan selamat, engkau dan seisi rumahmu."" (Kisah Para Rasul 16:31)
Fwd: quiet time with God
How to Have a Quiet Time With God
By Rick Warren 1/17/2009 6:11:01 PM
In any relationship, we grow closer through sharing time with one another. The same is true with God. Here is how to develop a regular habit of spending time with God.
Maybe you're motivated to spend time with God, but you don't know how to make the most of it. There are four essential elements of a good quiet time:
Start with the proper attitudes.
Select a specific time.
Choose a special place.
Follow a simple plan.
In God's eyes, why we do something is far more important than what we do. On one occasion God told Samuel, "The Lord does not look at the things man looks at. Man looks at the outward appearance, but the Lord looks at the heart" (1 Samuel 16:7). When you come to God, you need these right attitudes:
Expectancy. Come before God with anticipation, expecting to have a good time of fellowship and receive a blessing from your time together. This is what David expected: "O God, you are my God, earnestly I seek you" (Psalm 63:1; see also Psalm 42:1).
Reverence. Don't rush into God's presence, but prepare your heart by being still before him. Let the quiet clear away the thoughts of the world. The prophet Habakkuk tells us, "The Lord is in His holy temple; let all the earth be silent before him" (Habakkuk 2:20; see also Psalm 89:7). Coming into the presence of God is not like going to a football game.
Alertness. Remember that you are meeting with the Creator, the Maker of heaven and earth, the Redeemer of mankind. Be thoroughly rested and alert. The best preparation for a morning quiet time begins the night before. Get to bed early so you can give God your full attention in the morning.
Willingness to obey. This attitude is crucial: You don't come to your quiet time to choose what you will or won't do, but with the purpose of doing anything and everything God wants you to do. Jesus said, "If anyone chooses to do God's will, he will find out whether my teaching comes from God or whether I speak on my own" (John 7:17). So come to meet the Lord having already chosen to do his will no matter what.
Make a Date With Jesus!
Decide in advance when and for how long your quiet time should be. The general rule is this: The ideal time is when you are at your best. Give God the best part of your day—when you are the freshest and most alert. Don't try to serve God with your leftover time.
It was Jesus' own practice to rise early to pray and meet with the Father. "Very early in the morning, while it was still dark, Jesus got up, left the house, and went off to a solitary place, where he prayed" (Mark 1:35).
In the Bible many godly men and women rose early to meet with God. Some of these were Abraham, Job, Jacob, Moses, Hannah, and David.
The great revival among British college students in the late 19th century began with these historic words: "Remember the Morning Watch!" Think of your morning meeting with God as your Morning Watch.
Portrait: Susuma Ochida
Doctors tell us breakfast is our most important meal, giving us energy, alertness, and even establishing our moods for the day. Likewise, we need a "spiritual breakfast" to start our day off right and make sure we are giving Jesus first place. We are to seek his kingdom first (Matthew 6:33).
Finally, in the morning our minds are less cluttered. Our thoughts are fresh, we are rested, and it's usually the quietest time. One mother sets her alarm clock for 4 a.m., has her quiet time, goes back to bed, and then rises when everyone else in the household gets up. Early morning, she explains, is the only time her house is quiet! It works for her; you need to select a time that will work for you.
Whatever time you set, be consistent in it. Schedule it on your calendar; make an appointment with God as you would with anyone else. Make a date with Jesus! Then make sure you keep it at all costs.
How much time you spend is a matter to be decided between you and the Lord. If a quiet time is new to you, start out slow, but aim eventually to spend not less than 15 minutes a day with God. Out of the 168 hours we all have in a week, 1 hour 45 minutes seems terribly small when you consider that you were created to have fellowship with God.
Choose a Special Place
Where you have your quiet time is just as important as when. The Bible indicates that Abraham had a regular place where he met with God (Genesis 19:27). Jesus had a custom of praying in the garden of Gethsemane on the Mount of Olives. "Jesus went out as usual to the Mount of Olives, and his disciples followed him" (Luke 22:39).
Your place ought to be a secluded place, somewhere you can be alone, where it's quiet, and where you will not be disturbed or interrupted. This may take some ingenuity, but it is necessary. It ought to be a place …
Where you can pray aloud without disturbing others.
Where you have good lighting for reading (a desk, perhaps).
Where you are comfortable. (Bed is not a good choice. That's too comfortable!)
Wherever you choose, make it a sacred place—a place you set aside to meet each day with the Lord of the universe.)
Follow a Simple Plan
You'll need a general plan to make your quiet time successful, but the main rule is this: Keep your plan simple. Don't let it detract from your time with Christ. Below are six points for a workable quiet time. You will need the following three items:
A Bible—a contemporary translation (not a paraphrase) with good print, preferably without notes.
A notebook—for writing down what the Lord shows you and for making a prayer list.
A hymnbook—in case you sometimes want to sing in your praise time (see Colossians 3:16).
Relax and wait on God. Be still and quiet for a minute to put yourself in a reverent mood. Follow God's admonition: "Be still, and know that I am God" (Psalm 46:10; see also Isaiah 30:15, 40:31).
Request that God cleanse your heart and guide you into the time together. Here's a great Scripture to memorize: "Search me, O God, and know my heart; test me and know my anxious thoughts. See if there is any offensive way in me, and lead me in the way everlasting" (Psalm 139:23-24). You must be in tune with the Author of the Book before you can understand what he wrote.
Read a section of the Scripture. This is where your conversation with God begins. He speaks to you through his Word, and you speak with him in prayer.
Read Your Bible…
Slowly. Don't race through it.
Repeatedly, until you start to picture it in your mind. The reason some people don't get more out of their Bible reading is that they do not read this way.
Without stopping. Remember that your goal here is not to gain information, but to feed on the Word and get to know Christ better.
Aloud but quietly. This helps you concentrate on and understand what you're reading. Read softly enough, however, so that you don't disturb anyone.
Systematically. Read through one book at a time in orderly fashion—not using the "random dip" method—a passage here, a chapter there. Read the Bible as it was written—a book or letter at a time.
To get the sweep of a book. On some occasions you may want to survey a whole book. In that case, you will read it quickly to get the sweep of the total revelation.
Reflect and Remember. To have the Scriptures speak to you meaningfully, you should meditate on what you are reading and memorize verses that particularly speak to you. Meditation is "seriously contemplating a thought over and over in your mind."
Record what God has shown you. When God speaks to you through his Word, record what you have discovered. Writing it down enables you both to remember what God revealed to you and to check up on your biblical discoveries.
Request from God through a time of prayer. After God has spoken to you through his Word, speak to him in prayer. This is your part of the conversation with the Lord.
Closing Thoughts
Keep your quiet time fresh with these tips:
Vary your plan. From time to time change your methods. Don't fall into the trap of performing a method instead of getting to know Christ.
Sometimes when prayer seems hard and heavy, spend your whole quiet time just thanking God for who he is and what he has done. In Psalm 145 the psalmist asked nothing for himself. Or just sing some songs of praise to God.
Spend a whole quiet time in Scripture memory. Let God speak to you in this special and challenging way.
Remember your main purpose: to get to know Christ. Don't let your quiet time become a legalistic exercise in "doing your duty." Remember that you are there to meet Jesus Christ and get to know him.
Fwd: empati & simpati
Bersimpati Terhadap Kemalangan Orang Lain
Ayat bacaan: Roma 12:15
=====================
"Bersukacitalah dengan orang yang bersukacita, dan menangislah dengan orang yang menangis!"
Anda tentu ingat gempa bumi berkekuatan besar yang menimpa sekitar bulan Maret tahun lalu. Pada saat itu ada seorang musisi dari Amerika yang tengah tour disana dan hampir saja turut menjadi korban. Ia sempat melihat bahwa paving block di pompa bensin menjadi bergelombang karena gempa itu. Ia pun bertahan di dalam van nya selama guncangan berlangsung. Ia sempat tertahan di Jepang untuk beberapa waktu lamanya, tapi ia akhirnya selamat. Setelah kejadian itu ia sempat bercerita kepada saya mengenai pengalaman mengerikan itu. Uniknya, dia tidak mau mengatakan bahwa ia senang bisa selamat dari kejadian itu. Mengapa? Karena ada banyak korban jiwa akibat bencana alam dahsyat tersebut, dan dia berbelasungkawa atas tragedi itu. "I'm thankful to be saved, but I don't want to be happy for it..my heart goes to the victims.." katanya.
Dalam banyak kesempatan ketika kita merasa bersyukur terhindar dari kejadian buruk, kita seringkali lupa bahwa ada orang lain yang mungkin tidak seberuntung kita. Benar, kita memang patut bersyukur atas penyertaan Tuhan atas diri kita, yang menghindarkan kita dari kejadian-kejadian buruk, namun kita harus menjaga agar jangan sampai kita mengabaikan orang lain yang tertimpa masalah. Maksud saya, jangan sampai kita mensyukuri keuntungan lalu lupa dengan orang yang menderita, atau malah bergembira di atas kesusahan atau musibah yang menimpa orang lain. Bentuk kasih yang dianugerahkan Tuhan kepada kita bukanlah bentuk kasih yang hanya terfokus kepada diri sendiri saja, tetapi justru tertuju kepada sesama kita. Itu bisa lewat berbagai bentuk seperti simpati, empati, rasa sepenanggungan, kepedulian dan sebagainya. Alangkah keterlaluannya jika kita mengaku sebagai anak-anak Allah yang rajin bersyukur namun kita mengabaikan orang-orang lain yang tengah tertimpa musibah karena kita terlalu sibuk mensyukuri diri sendiri. Apa yang diajarkan firman Tuhan berbunyi seperti ini: "Bersukacitalah dengan orang yang bersukacita, dan menangislah dengan orang yang menangis!" (Roma 12:15).
Dalam sebuah perumpamaan tentang orang Farisi dan pemungut cukai dari Yesus dalam Lukas 18:9-14 kita bisa melihat contoh mengenai hal ini. Di sini Yesus mengambil contoh tentang seorang Farisi dan pemungut cukai yang pergi ke Bait Allah untuk berdoa. Orang Farisi yang merasa paling suci karena menguasai benar hukum Taurat berdoa seperti ini: "Ya Allah, aku mengucap syukur kepada-Mu, karena aku tidak sama seperti semua orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah dan bukan juga seperti pemungut cukai ini;" (ay 11). Lebih jauh lagi, ia terus menyombongkan dirinya. "aku berpuasa dua kali seminggu, aku memberikan sepersepuluh dari segala penghasilanku." (ay 12). Tapi si pemungut cukai yang statusnya di masyarakat waktu itu sebagai orang berdosa yang dianggap tidak layak dikasihi ternyata bereaksi berbeda. "Tetapi pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh, bahkan ia tidak berani menengadah ke langit, melainkan ia memukul diri dan berkata: Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini." (ay 13). Dan mana yang dibenarkan Allah? Yesus menutup perumpamaannya dengan: "Aku berkata kepadamu: Orang ini pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan Allah dan orang lain itu tidak. Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan." (ay 14). Bentuk syukur orang Farisi ini adalah bentuk syukur di atas kekurangan atau kelemahan dan penderitaan orang lain. Ia bersukacita diatas kemalangan orang-orang berdosa yang seharusnya ia sentuh untuk diselamatkan. Ini sama sekali tidak benar di mata Tuhan. Bagaimana mungkin kita bisa bersyukur melihat orang-orang yang tertimpa masalah, termasuk masih terbelenggu dosa, ketika Yesus sendiri datang justru untuk menyelamatkan semua orang yang berdosa, yang notabene termasuk kita juga di dalamnya?
Malaikat pun menunjukkan reaksi yang sama di Surga. Malaikat dikatakan bersukacita, bersorak sorai bukan ketika melihat mereka yang terjerumus dan tersesat dalam dosa kemudian binasa, namun justru ketika ada orang yang bertobat, bahkan satu orang sekalipun. Di Alkitab ada tertulis: "Aku berkata kepadamu: Demikian juga akan ada sukacita pada malaikat-malaikat Allah karena satu orang berdosa yang bertobat." (Lukas 15:10). Kita sebagai anak-anak Allah pun seharusnya berprinsip sama. Ketika ada orang yang mengalami masalah, tertimpa musibah atau kejadian buruk, seharusnya kita memberikan simpati, berempati menolong mereka semampu kita, meringankan beban mereka. Ketika ada yang terjerumus dalam dosa, seharusnya kita berusaha mengingatkan dan membimbing mereka. Jangan malah berpusat pada keuntungan diri sendiri dan bersyukur di atas penderitaan mereka. Turut sepenanggungan, menangis dengan orang yang menangis, dan selanjutnya mengulurkan tangan buat mereka.
Sikap ini bukan hanya berlaku untuk orang-orang yang baik atau dekat kepada kita, tapi juga termasuk untuk mereka yang jahat kepada kita. Kasih Allah yang ada dalam diri kita harusnya tidak berpesta pora ketika mereka ditimpa kejadian buruk. Kristus mengajarkan kita untuk tidak membenci musuh, apalagi mendendam, tapi sebaliknya kita harus mengasihi dan berdoa bagi mereka. "Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu." (Matius 5:44). Bukannya merasa senang dan bersyukur atas kemalangan seteru kita, tapi justru kita diperintahkan untuk menolong ketika mereka tertimpa masalah. "Tetapi, jika seterumu lapar, berilah dia makan; jika ia haus, berilah dia minum! Dengan berbuat demikian kamu menumpukkan bara api di atas kepalanya." (Roma 12:20).
Sebagai pengikut Kristus, hendaklah kita hidup sepenuhnya dalam kasih Kristus. Dan aspek-aspek kasih Kristus yang seharusnya memenuhi diri kita termasuk mengenai simpati, empati, turut sepenanggungan, kepedulian dan seterusnya. Kita harus mampu keluar dari kepentingan dan kesenangan diri sendiri lalu turut merasakan kesusahan orang lain. Senang melihat orang susah, atau sebaliknya susah melihat orang senang, itu bukanlah sikap anak-anak Tuhan. Adalah baik untuk mengucap syukur atas hal-hal yang baik dalam diri kita, tapi jangan sampai karena terlalu sibuk mengucap syukur lalu kita lupa untuk menunjukkan rasa turut sepenanggungan kepada sesama kita yang tengah tertimpa masalah.
Jangan bergembira di atas kemalangan orang lain, termasuk kepada orang yang jahat kepada kita
Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrhohttp://renungan-harian-online.blogspot.com/
Fwd: meremehkan org lain
Meremehkan Orang Lain
Ayat bacaan: Matius 13:55
====================
"Bukankah Ia ini anak tukang kayu? Bukankah ibu-Nya bernama Maria dan saudara-saudara-Nya: Yakobus, Yusuf, Simon dan Yudas?"
Pernahkah anda melihat pramuniaga yang bersikap berbeda dalam melayani konsumen? Saya pernah beberapa kali melihatnya. Mereka akan terlihat sangat ramah dan menyapa kepada orang yang mereka anggap potensial untuk membeli, dan bersikap dingin bahkan terus mengintip dan mengikuti orang yang dianggap tidak sanggup membeli di dalam tokonya. Di jaman dahulu di kota kelahiran saya ketika mal dengan eskalator baru mulai muncul, pengunjungnya bahkan sempat tidak diperbolehkan masuk jika memakai sendal jepit. Cobalah masuk ke perumahan mewah, maka banyak satpam yang melakukan sikap yang sama. Saya bahkan sempat mendapati satpam yang menahan KTP tamu yang hendak berkunjung beberapa tahun yang lalu. Apakah Tuhan mengajarkan kita untuk mengukur seseorang lantas merasa berhak untuk meremehkan orang-orang tertentu? Tentu saja tidak. Tapi ironisnya perilaku ini pun tampaknya sudah ikut mencemari gereja-gereja tertentu. Saya terkejut ketika tetangga saya bercerita ketika ia masuk ke sebuah gereja di ibukota, ia disuruh pindah duduk ke belakang karena baris-baris di depan hanyalah untuk jemaat tertentu saja. Padahal saat itu bangku-bangku di depan sedang kosong. Sebuah penghormatan akan diberikan kepada tamu/konsumen yang terlihat kaya, bermobil mewah, berdasi atau glamor, sebaliknya pandangan curiga, sinis atau sikap tidak ramah bahkan merendahkan akan diberikan kepada mereka yang terlihat biasa-biasa saja. No, that's not the way God wants us to be!
Dari masa ke masa kita akan berhadapan dengan orang-orang yang bersikap seperti itu, termasuk di antara orang percaya. Ketika Yesus hadir di dunia mengambil rupa orang biasa, Dia pun sempat menerima perlakuan yang sama. Diremehkan, disepelekan, dipandang rendah. Ironisnya itu terjadi di kotanya sendiri, di Nazaret, dimana Yesus dalam rupaNya sebagai manusia bertumbuh. Kita bisa melihatnya dalam Matius 13. Ketika Yesus mengajar di sana pada suatu kali, ada sekelompok orang yang dengan cibiran sinis meremehkan atau merendahkanNya. Lihatlah komentar orang-orang disana mengenai Yesus. "Bukankah Ia ini anak tukang kayu? Bukankah ibu-Nya bernama Maria dan saudara-saudara-Nya: Yakobus, Yusuf, Simon dan Yudas?" (Matius 13:55). Mereka menilai dari apa yang terlihat dari luar, dan belum apa-apa sudah menghakimi seenaknya. Dan apa yang terjadi kemudian sangatlah disayangkan. "Lalu mereka kecewa dan menolak Dia." (ay 57b). Mereka menunjukkan sikap tidak percaya. Lalu Alkitab menyatakan apa yang terjadi selanjutnya. "Dan karena ketidakpercayaan mereka, tidak banyak mujizat diadakan-Nya di situ." (ay 58). Ironis bukan? Justru di 'rumah' sendiri Yesus mendapat penolakan, dan justru disana mukjizat tidak banyak terjadi. Mereka seharusnya bisa melihat berbagai kuasa dan mukjizat yang dilakukan Yesus, namun karena mereka sibuk memandang apa yang terlihat dari luar mereka pun meremehkan perbuatan-perbuatan luar biasa Yesus. Dan akibatnya mereka pun luput dari jamahan Tuhan.
Hingga hari ini manusia masih saja jatuh ke dalam hal yang sama. Lihatlah ada banyak orang yang hanya akan ke gereja jika pengkotbahnya dianggap pintar ngomong, lucu, terkenal atau hanya bicara berkat. Parahnya banyak pula gereja yang kemudian mencoba mengakomodasi hal ini dengan membawa bintang tamu, syukur-syukur artis terkenal dan mempromosikannya besar-besaran di surat kabar dan lain-lain. Gereja bagi mereka bukan lagi sebuah tempat dimana kita bisa bersekutu dengan Tuhan bersama-sama saudara seiman, bersama mengalami hadirat Tuhan, gereja bukan lagi tempat untuk mengundang Roh Kudus turun atas kita. Gereja bukan lagi dianggap sebagai Bait Allah, tetapi tidak lebih dari gedung hiburan atau tempat hiburan atau entertainment saja, dimana Tuhan sudah sama sekali disingkirkan. Segala esensi beribadah raya sudah melenceng dari seharusnya. Bayangkan apabila Tuhan Yesus ada di dunia saat ini, dan Dia melihat Rumah BapaNya sudah berubah menjadi tempat pertunjukan lalu menolak kehadiranNya. Tidakkah itu buruk?
Mari kita lihat sebuah kekeliruan yang terjadi ketika Samuel mencari anak-anak Isai untuk diurapi menjadi raja. "Ketika mereka itu masuk dan Samuel melihat Eliab, lalu pikirnya: "Sungguh, di hadapan TUHAN sekarang berdiri yang diurapi-Nya." (1 Samuel 16:6). Samuel berpikir demikian dengan memandang penampilan luar. Ganteng, tinggi, berwibawa, kurang apa lagi? Itu mungkin yang muncul dalam pikiran Samuel. Tapi nyatanya Tuhan tidak memandang dengan cara demikian. Tuhan pun kemudian menegurnya. "Tetapi berfirmanlah TUHAN kepada Samuel: "Janganlah pandang parasnya atau perawakan yang tinggi, sebab Aku telah menolaknya. Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati." (ay 7). Lalu selanjutnya, bukankah Tuhan telah berfirman: "Tetapi apa yang bodoh bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan orang-orang yang berhikmat, dan apa yang lemah bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan apa yang kuat, dan apa yang tidak terpandang dan yang hina bagi dunia, dipilih Allah, bahkan apa yang tidak berarti, dipilih Allah untuk meniadakan apa yang berarti" ? (1 Korintus 1:27-28). Dalam banyak lagi kesempatan Tuhan juga sudah berkali-kali mengingatkan kita agar berhenti memandang segala sesuatu hanya berdasarkan penampilan luar yang dapat dilihat mata.
Dari renungan hari ini kita bisa melihat bahwa kecenderungan untuk meremehkan atau merendahkan orang lain merupakan sebuah pelanggaran yang serius. Ini tidak saja bisa menimpa orang biasa tetapi bisa pula menghinggapi orang-orang yang seharusnya menjadi teladan, hamba-hamba Tuhan yang berada di barisan depan dalam melayani Tuhan. Kita sudah melihat bahwa nabi sekelas Samuel pun ternyata bisa melakukan kekeliruan seperti itu. Kita harus mewaspadai agar jangan sampai perilaku seperti ini ada dalam diri kita. Ingatlah bahwa apa yang tampak hebat dari luar belum tentu sebaik apa yang terlihat, dan belum tentu hebat pula dalam pandangan Tuhan. Sebaliknya, ingat pula bahwa orang yang terlihat tidak istimewa dalam pandangan manusia bisa dipakai Tuhan secara luar biasa. Seperti apapun mereka terlihat, mereka sama berharganya di mata Tuhan. Artinya, karena Tuhan mengasihi semua orang tanpa pandang bulu, ketika kita meremehkan seseorang itu sama saja dengan meremehkan Tuhan. So stop judging the book from its cover. Berhentilah menilai orang hanya dari kulit luarnya. Dengan tegas Yesus berkata: "Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi." (Yohanes 13:34). Bersikaplah sama baik kepada semua orang tanpa membeda-bedakan. Kasih yang diberikan Kristus kepada kita bukanlah sebentuk kasih yang membeda-bedakan seperti itu. Sama seperti Dia mengasihi kita tanpa memandang status, fisik, penampilan, asal usul atau latar belakang kita, seperti itu pula kita harus memperlakukan sesama kita.
Tuhan tidak menilai penampilan luar, tetapi melihat hati
Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho
RENDAH HATI
Kerendahan Hati by Mother Teresa :
1. Berbicara sedikit mungkin tentang diri sendiri.
2. Uruslah sendiri persoalan-persoalan,
3. hindarilah rasa ingin tahu.
4. Jangan mencampuri urusan orang lain,
5. terimalah pertentangan dengan kegembiraan.
6. Jangan memusatkan perhatian kepada kesalahan orang lain,
7. terimalah hinaan dan caci maki.
8. Terimalah perasaan tidak diperhatikan, dilupakan dan dipandang rendah.
9. Mengalah terhadap kehendak orang lain,
10. terimalah celaan walaupun qta tidak layak menerimanya.
11. Bersikap sopan dan peka sekalipun seseorang memancing amarah qta.
12. Janganlah mencoba agar dikagumi dan dicintai,
13. bersikap mengalah dalam perbedaan pendapat walaupun qta benar,
14. pilihlah selalu yang tersulit.
CARA-CARA YANG DILAKUKAN IBU THERESA UNTUK MENCAPAI KERENDAHAN HATI
Tuhan memberi
Tuhan memberi kepahitan kepada kita agar kita semakin kuat.
Tuhan memberi kegagalan kepada kita agar kita rendah hati.
Tuhan memberi kesakitan kepada kita agar kita menjaga diri dengan lebih baik.
Tuhan mengambil semua yang kita miliki.... agar kita menghargai apa yang telah kita miliki saat ini.
------------------------------------------------------------------------
Teruslah maju dalam jalan kehidupan, sekalipun penuh dgn lubang disana-sini.
Apapun keadaannya, berikan yg terbaik yg kita bisa.
Jangan buang waktu menunggu situasi yg sempurna, sesuatu yg mungkin tdk akan pernah terjadi.
Dalam kenyataan, tidak ada kehidupan yg sempurna; cara kita memandang hidup-lah yang membuatnya sempurna.