Blessingfor Myfamily

Blessingfor Myfamily
Keluarga yg diberkati

Kamis, 15 November 2012

kerja terus

Kerja Terus, Terus Kerja

Penulis : Saumiman Saud

Kerja terus dan terus kerja, kapan berhentinya? Suatu pertanyaan yang selalu terngiang ditelinga kita bukan? Ada orang bilang ia harus kerja sampai tua kalau tidak sia-sia hidupnya, sebaliknya ada yang bilang kalau kerja terus sampai tua juga sia-sia, kapan santainya?. Ada lagi orang yang bekerja pagi, siang, sore dan malam, dan istirahatnya kalau sudah jatuh sakit, dan ada yang lebih ekstrem lagi biarlah kerja terus dan terus kerja sampai mati, yang penting banyak uang masuk, jadi uang dicari terus, namun tidak pernah memakainya.

Kita juga sering mendengar orang mengatakan bahwa "Waktu adalah uang", namun Jack Collins dalam bukunya Work Smarter Not Harder tidak setuju dengan prinsip ini. Menurut beliau, pada kenyataannya justru "Kerja adalah sama dengan uang", bila anda berpendapat bahwa waktu adalah uang cobalah berhenti bekerja, dan periksalah berapa banyak uang yang datang dengan sendirinya. Dengan kata lain "kerja" itu sangat penting, sehingga tidak heran ada orang yang sampai setengah mati kerja hanya untuk sesuap nasi, itu tidak salah, ketimbang ia tidak mau kerja tetapi tetap perlu sesuap nasi.

Di dalam dunia yang penuh persaingan bisnis ini, masing-masing orang diperhadapkan dengan berbagai perlombaan, untuk menciptakan prestasi dan prestise yang paling tinggi. Semua orang ingin sukses, semua orang ingin berhasil, tidak ada yang bercita-cita untuk gagal, dan bukan hanya itu bila perlu apabila saya berhasil maka engkau yang harus gagal, sebab engkau akan menjadi saingan bila engkau juga berhasil. Zaman sekarang ini, kalau orang bekerja selama dua belas sampai lima belas jam sehari bukan merupakan barang aneh lagi. Sebaliknya hal ini malah telah menjadi seperti suatu "keharusan". Bahkan sisa pekerjaan dari kantor di bawa pulang ke rumah sebagai bahan lembur.

Istilah "Cukup" dan "Puas" seakan-akan tidak berlaku lagi. Jadi yang muncul dalam benak masing-masing orang yakni bersaing, bersaing, dan bersaing terus. Jika kita tidak mau kerjakan pekerjaan ini orang lain mau. Jika kita tidak terima pekerjaan itu, orang lain menerima. Jika kita minta harga yang lebih mahal, orang lain berani memberikan harga yang lebih murah! Jika kita berani terima pekerjaan itu dengan untung yang minimal, orang lain berani menerimanya dengan tidak untung sesenpun atau rugi, yang penting pekerjaan itu harus menjadi miliknya. Inilah hal-hal umum yang sedang terjadi di kalangan dunia bisnis. Mereka menganggap bahwa tujuan utama bekerja adalah mencari uang dan kekayaan, namun lain dengan konsep Alkitab, Allah mengajar kita bekerja untuk Allah.

Bekerja bagi Allah merupakan suatu kegiatan kita untuk memenuhi Amanat dan tujuan hidup Sorgawi. Bekerja merupakan suatu pelayanan sekaligus merupakan ibadah. Tuhan Yesus mengatakan "Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberikan kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah-lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Ku pun ringan (Mat 11:28-30)". "Kelegaan" yang dilukiskan oleh Tuhan Yesus di sini adalah kelegaan atau ketenangan roh kita, suatu kelegaan atau kepercayaan kepada janji-janji dan persediaan Allah untuk berbagai kebutuhan kita yang paling dalam, paling pribadi, dan paling didambakan . Ini berarti bahwa waktu bersenang dan bersantai, kebebasan dari bekerja; sesungguhnya dimulai di pekerjaan. Semua ini akan terjadi tatkala kita berhenti mengandalkan pekerjaan kita dan mulai mempercayakan Tuhan Yesus untuk menyediakan berbagai kebutuhan kita.

Sebuah kisah yang benar-benar terjadi, pada suatu hari di penghujung tahun 1969, di dalam sebuah perpustakaan penelitian dari Universitas California di Berkeley, seorang pemuda tiba-tiba mengamuk. Ia masuk perpustakaan sambil berteriak histeris kepada rekan-rekan mahasiswa yang terheran-heran, ":STOP!,STOP! Anda sudah mulai mendahului saya!" Pemuda ini kemudian ditangkap, tetapi kejahatan apakah sebenarnya yang telah dilakukannya? Tidak ada. Ia hanya stress!! "Orang lain sudah mulai mendahului saya" katanya.

Sementara anda mulai bekerja, orang lain berolah-raga, mereka telah mendahului anda. Sementara orang lain dipromosikan naik pangkat, mereka telah mendahului anda. Sementara orang lain membaca buku yang anda belum baca, orang itu telah mendahului anda. Sementara tetangga baru membeli mobil mewah, orang itu telah mendahului anda.

Sementara banyak sementara yang orang lain telah mendahului anda.

Jadi tidak pernah ada rasa puas dan ini cenderung menjadikan pekerjaan kita sebagai berhala. Kita begitu diikat, seakan-akan kalau tanggal merah saya tutup toko, orang lain sudah mendahului anda. Berapa banyak orang yang terjebak dalam kasus ini? Apalagi kalau hari minggu tutup toko, langganan semuanya bisa lari, lalu anda tetap membuka toko sehingga tidak ada waktu datang ke gereja. Kita sering mendengar ada orang dengan bangga bercerita kepada temannya, bahwa sudah bertahun-tahun ia tidak pernah mengambil cuti. Atau mereka begitu sibuk sehingga waktu untuk istirahat sehari sajapun tidak ada. Lalu teman-temannya mulai mumuji dia, wah hebat; ini dia yang paling giat. Sementara yang lain menasihati dia, kerja tidak usah dipaksa, ia merasa ini suatu kebanggaan. Sebab ia bisa bekerja "mati-matian".

Saya bersyukur sebagai hamba Tuhan di gereja sudah disediakan waktu sebulan untuk cuti, dan tahun ini setiap hamba Tuhan di gereja diharuskan mengambil cuti tersebut. Namun sayang, bagi saya cuti itu berarti menghabiskan dana, mungkin suatu saat gereja juga memikirkan kompensi cuti buat hamba Tuhannya. Saya mengajak kita mengubah konsep bahwa cuti jangan diartikan dengan malas bekerja. Tetapi istirahat untuk memperbaharui semangat.

Memang, dalam waktu yang singkat sumber utama identitas orang Kristen adalah dilihat dari pekerjaannya. Biasanya sesudah kita berkenalan dengan seseorang dengan menyebut nama, kita biasanya menjelaskan apa pekerjaan kita. Baru-baru ini saya sempat berkenalan dengan tetangga yang ada di seberang rumah (kebetulan masih kampung), lalu saya tanya "Mas, apa kerja anda? dengan malu dan suara yang agak kecil hampir tidak kedengaran oleh telinga ia menjawab "Cleaning service di sebuah klinik". Ia agak sungkan menyebut pekerjaannya, coba bandingkan dengan orang yang mempunyai jabatan yang tinggi misalnya direktur atau pimpinan perusahaan, biasanya dengan bangga dan suara yang agak keras ia menyebutkan pekerjaannya.

Selain itu ada semboyan yang berbunyi "Kita belum melayani Tuhan benar-benar bila kita tidak berjuang mati-matian." Dengan letih tetapi bangga kita cenderung untuk berjuang habis-habisan daripada diam berkarat. Padahal menurut saya kedua-duanya sama tak masuk akal. Kerja bagi orang percaya identik dengan pelayanan. Masalahnya adalah bagaimana konsep kita terhadap pekerjaan itu? Apa tujuan utama kita bekerja? Menjadi kayakah atau ada yang lain?

Saya pikir orang kristen harus mempunyai konsep yang benar dahulu tentang pekerjaan itu, bukan sekadar untuk mencari kekayaan. Berbahaya sekali apabila kita mempunyai konsep yang keliru ini, kita boleh menghalalkan segala pekerjaan, yang penting kaya. Namun kalau tujuannya merupakan pelayanan itu lain soal, itu berarti segala pekerjaan yang kita lakukan haruslah yang sesuai dengan kehendak Tuhan.

Menurut Markus 6:30-34, Yesus dengan sengaja mencari kelegaan sesudah letih melayani orang lain. Ia juga menganjurkan kepada murid-murid-Nya melakukan hal yang sama. Kehidupan Yesus sungguh seimbang, Ia melaksanakan semua tugas yang dipercayakan Allah Bapa kepada-Nya dengan sempurna. Bila begini cara Yesus hidup, maka dengan sendirinya kita perlu teladani. Seandainya hari ini anda sudah terlanjur membentuk kebiasaan bekerja yang kelewat batas tanpa istirahat, maka mungkin akan "sangat sulit" bagi anda untuk merubahnya. Tetapi, ingatlah bahwa "sangat sulit" bukan berarti tidak bisa atau mustahil!! Tetapi "sangat sulit" itu berarti bisa berubah, asalkan kita mau mencobanya.

Ada dua cara untuk memanfaatkan waktu yang senggang tatkala kita sudah berlelah kerja selama ini :

  1. Berhentilah menjejali pikiran dengan seluk-beluk kehidupan yang tiada habis-habisnya ini, soalnya memang tidak pernah habis.
    Juruselamat kita Yesus Kristus dengan tegas mengatakan bahwa kita tidak dapat melayani Allah dan manusia pada saat yang sama. Tetapi betapa kerasnya kita berusaha untuk mengatasi ini! Perkataan Tuhan Yesus di dalam Matius 6 dapat kita simpulkan menjadi : "Jangan memaksa diri melakukan apa yang hanya dapat ditangani oleh Allah." Setiap pagi anda harus dengan sengaja memutuskan untuk tidak membiarkan rasa kuatir, rasa takut, rasa cemas, rasa was-was yang senantiasa menyita waktu anda dan merampas saat santai anda. Buang semua itu, untuk memulai pelayanan kita hari ini. Sebagai orang Kristen tentunya kita membuka setiap hari dengan saat teduh dan membaca Alkitab, sehingga sejak pagi hari saja kita mengisi diri kita dengan firman Tuhan.

·  Mulailah mengambil waktu untuk bersantai, karena waktu yang disediakan saat senggang adalah untuk santai.
Sesudah menciptakan dunia, Allah beristirahat, nah kita sekarang diperintahkan untuk meniru-Nya. Lihat Efesus 5:1 "Sebab itu jadilah penurut-penurut Allah, seperti anak-anak yang kekasih" Bahasa Yunani dari "Jadilah penurut-penurut" diterjemahkan dari "mimeomai", melalui kata ini nantinya muncul istilah "Mimik atau meniru". Kata jadilah "penurut-penurut ini muncul dalam bentuk "terus-menerus" dan memberi kesan kebiasaan tetap atau artinya selama-lamanya harus menurut. Jadi kesimpulannya kita harus menjadi penurut-penurut Allah secara terus-menerus; termasuk di dalam mengambil waktu senggang ini,agar supaya istirahat bisa hadir di dalam kehidupan kita. Tempatkanlah Yesus Kristus di pusat kehidupan kita, Ia harus berada di tempat yang seharusnya sebelum kita dapat mengharapkan dunia kita berputar mulus.

Pada suatu malam seorang bapak yang kecapaian setelah membanting tulang seharian berjalan terseok-seok ke rumahnya. Ia baru melewatkan hari yang penuh dengan tekanan, desakan dan tuntutan di tempat kerjanya. Ia sangat mendambakan saat rileks dan penuh ketenangan. Dengan letih ia mengambil surat kabar dan berjalan menuju kamar belajar. Baru saja ia membuka sepatu, tiba-tiba anak lelakinya yang baru berusia lima tahun melompat ke atas pangkuannya. Wajahnya berbinar-binar dengan riang. "Hai, Pa.............yuk kita main!"

Bapak ini sangat mengasihi anaknya, tetapi kebutuhan akan sedikit waktu untuk diri sendiri saat itu lebih besar daripada untuk bermain dengan si kecil. Tetapi bagaimana caranya mengatur hal ini? Ketika itu surat kabar sedang memuat berita hangat mengenai satelit bulan dan gambar yang besar planet bumi. Sang ayah mendapat ide lalu menyuruh anaknya mengambil gunting dan transparent tape. Dengan cepat digunting-guntingnya gambar bumi tadi dalam bentuk yang tidak beraturan lalu memberikan tumpukan teka-teki gambar itu kepada sang anak. "Coba kau sambung-sambung kembali potongan ini. Setelah selesai kamu boleh kembali, lalu kita bermain bersama-sama, Okey"

Dengan segera anak itu berlari ke kamarnya sementara si ayah menarik nafas lega. Tetapi kurang dari sepuluh menit kemudian si anak sudah muncul membawa gambar yang sudah selesai direkat dengan sempurna. Dengan terheran-heran ayahnya bertanya: Bagaimana caranya kau melakukannya dengan begitu cepat nak?" "Ah gampang ayah, di balik gambar ini kan ada gambar orang. Bila orang itu dipersatukan, bumi juga akan bersatu."

Demikianlah halnya hidup ini bila kita menempatkan manusia dengan benar, akan terjadi hal-hal yang mengherankan dengan dunia kita ini; terutama dengan diri kita sendiri. Saya menjamin bahwa pada analisa akhir atas hidup anda yaitu pada saat anda berhenti dan menoleh pada cara anda menghabiskan waktu, maka penggunaan waktu senggang akan jauh lebih penting daripada untuk membanting tulang. Jangan menunggu sampai penyakit sudah datang, baru menikmati hidup ini. Jangan tunggu sampai sudah tinggal sisa hidup kita baru sungguh-sungguh menikmati waktu senggang. Saya hendak mengutip apa yang dikatakan salah seorang pendeta di Surabaya. Beliau mengatakan sewaktu muda orang-orang bekerja mati-matian menjual tenaga (kesehatan), lalu setelah uangnya banyak, masa tuanya penuh penyakit, dan saat itulah orang berusaha mati-matian untuk membeli lagi kesehatan. Jadi sepertinya sia-sia bukan?

Orang Kristen yang bertanggung jawab untuk bekerja, tentunya juga ia akan memilih pekerjaan yang baik dihadapan Tuhan dan manusia. Kekristenan tidak mengajar kita menjadi penganggur, sebab Allah kita bukan "penganggur", tetapi Allah kita justru Allah yang bekerja sepanjang sejarah dengan karya ciptaan-Nya sungguh ajaib. Kerja bukan dosa, asalkan kita mengerjakan segala sesuatu yang berkenan dihadapan Allah. Jikalau pandangan kita semua tentang pekerjaan sudah mengarah ke arah pelayanan bagi Tuhan, maka apapun profesi atau kerja kita asalkan tidak bertentangan dengan Tuhan; maka lakukanlah dengan penuh tanggung-jawab, dengan demikian tidak ada yang merasa malu dengan pekerjaannya; sebab semuanya ditujukan untuk kemuliaan nama Tuhan, bukan untuk diri sendiri lagi.

Memang di dalam dunia realita ini orang-orang bekerja sesuai dengan tingkat pendidikan yang ada, tidak mungkin orang yang buta huruf lalu bekerja sebagai manager atau direktur, kecuali perusahaannya itu warisan orang tua. Saya tidak mengatakan orang yang buta huruf atau yang miskin akan gagal terus, tetapi asalkan ia rajin dan giat; banyak sekali contoh konkret yang sudah sering kita lihat; mereka yang seperti ini tidak sedikit yang akhirnya menjadi konglomerat.

Prinsip utamanya sebagai orang kristen tentunya "kerja dengan penuh takut kepada Tuhan". Kerja itu penting; namun istirahat itu juga penting. Marilah kita ambil jalan tengah yakni mementingkan kedua-duanya, dengan demikian maka tidak ada alasan lagi bahwa pekerjaan kita menghalangi kita melayani Tuhan. Saya mengerti sekali bagi anda yang hidup di Amerika ini, rasanya setiap hari itu penuh dengan pekerjaan. Yang di computer, hari-hari penuh dnegan projek dan deadline. Suami dan isteri harus kerja, apalagi ada beban membayar uang cicilan rumah, semakin tertekan untuk bekerja mati-matian. Saya juga mengerti kalau anda ada yang bekerja harus berdiri selama 8 jam, kalau masih kuat tambah lagi pekerjaan lain yang 8 jam lagi, jadi di dalam satu hari anda berjuang 16 jam. Kemudian sesudah pulang ke rumah harus lagi mengurus pekerjaan yang di rumah, dari mulai bersih-bersih rumah sampai cuci pakaian, belum lagi mengurus anak-anak. Saya tidak tahu anda istirahatnya berapa lama?

Nah kalau hal ini berjalan terus-menerus, timbul pertanyaan pula, uang yang anda cari itu untuk apa? Untuk membayar dokter pada waktu anda sakit? Sekali lagi, kerja itu penting, kesehatan itu juga penting, mari jaga keseimbangannya.

 

potensi

Langkah Potensi Hidup

Langkah ke 1
Langkah pertama untuk mencapai potensi hidup kita yang maksimal adalah PERLUASLAH WAWASAN kita. Kita harus mampu memandang kehidupan ini dengan mata iman. Kita harus memiliki gambaran mental yang jelas tentang apa yang akan kita raih. Gambaran ini harus menjadi bagian dari dirimu, didalam benak kita, dalam percakapanmu, meresap ke pikiran alam bawah sadar kita, dalam perbuatan kita dan dalam setiap aspek kehidupan kita. (Yohanes 10:10)

Langkah ke 2
Langkah kedua untuk mencapai POTENSI hidup kita yang maksimal adalah MENGEMBANGKAN gambar diri yang sehat. Itu aartinya kita harus melandasi gambar diri kita diatas apa yang TUHAN katakana tentang kita. Keberhasilan kita meraih tujuan, sangat tergantung pada bagaimana kita memandang diri kita sendiri; sebab hal itu menentukan TINGKAT KEPERCAYAAN diri kita dalam bertindak. Fakta menyatakan bahwa, kita tidak akan pernah melesat lebih tinggi dari apa yang kita bayangkan mengenai diri kita sendiri. (Mazmur 139:14-16)

Langkah ke 3
Langkah ketiga untuk mencapai potensi hidup yang maksimal adalah temukan kekuatan dibalik pikiran dan perkataan kita. Target utama serangan musuh adalah pikiran kita. Ia tahu sekiranya ia berhasil MENGENDALIKAN & MEMANIPULASI seluruh kehidupan kita. Sungguh, pikiran menentukan perilaku, sikap dan gambar diri. Pikiran menentukan tujuan. Itulah sebabnya Alkitab memperingatkan kita untuk senantiasa menjaga pikiran. (Ibrani 3:1)

 

bermanfaat bg org lain

Losing Is Winning - In So Many Ways

(Kehilangan sama dengan Mendapatkan - "dalam banyak cara...")

Suatu hari seorang bapak tua hendak menumpang bus. Pada saat ia menginjakkan kakinya ke tangga, salah satu sepatunya terlepas dan jatuh ke jalan. Lalu pintu tertutup dan bus mulai bergerak, sehingga ia tidak bisa memungut sepatu yang terlepas tadi. Lalu si bapak tua itu dengan tenang melepas sepatunya yang sebelah dan melemparkannya keluar jendela. Seorang pemuda yang duduk dalam bus melihat kejadian itu, dan bertanya kepada si bapak tua, "Aku memperhatikan apa yang Anda lakukan Pak. Mengapa Anda melempakan sepatu Anda yang sebelah juga ?" Si bapak tua menjawab, "Supaya siapapun yang menemukan sepatuku bisa memanfaatkannya."

Si bapak tua dalam cerita di atas memahami filosofi dasar dalam hidup - jangan mempertahankan sesuatu hanya karena kamu ingin memilikinya atau karena kamu tidak ingin orang lain memilikinya.

Kita kehilangan banyak hal di sepanjang masa hidup. Kehilangan tersebut pada awalnya tampak seperti tidak adil dan merisaukan, tapi itu terjadi supaya ada perubahan positif yang terjadi dalam hidup kita.

Kalimat di atas tidak dapat diartikan kita hanya boleh kehilangan hal-hal jelek saja. Kadang, kita juga kehilangan hal baik. Ini semua dapat diartikan: supaya kita bisa menjadi dewasa secara emosional dan spiritual, pertukaran antara kehilangan sesuatu dan mendapatkan sesuatu haruslah terjadi.

Seperti si bapak tua dalam cerita, kita harus belajar untuk melepaskan sesuatu. Tuhan sudah menentukan bahwa memang itulah saatnya si bapak tua kehilangan sepatunya. Mungkin saja peristiwa itu terjadi supaya si bapak tua nantinya bisa mendapatkan sepasang sepatu yang lebih baik.

" Satu sepatu hilang. Dan sepatu yang tinggal sebelah tidak akan banyak bernilai bagi si bapak. Tapi dengan melemparkannya ke luar jendela, sepatu itu akan menjadi hadiah yang berharga bagi gelandangan yang membutuhkan. "

Berkeras mempertahankannya tidak membuat kita atau dunia menjadi lebih baik. Kita semua harus memutuskan kapan suatu hal atau seseorang masuk dalam hidup kita, atau kapan saatnya kita lebih baik bersama yang lain. Pada saatnya, kita harus mengumpulkan keberanian untuk melepaskannya. " Semoga kita menjadi orang yg bijak "

 

senang dg materi

Mematahkan Belenggu Materialisme

Oleh: Sunanto

Saat ini kita hidup dalam sebuah jaman yang sangat bersifat
konsumtif dan materialistis. Ketika saya masih kecil dulu, pusat
perbelanjaan (Mal) yang saat ini menjamur dimana-mana masih sangat
jarang sekali. Tanpa disadari banyak orang kristen yang terjebak
dengan gaya hidup yang konsumtif dan materialistik ini. Memiliki
kelimpahan bukanlah hal yang buruk tetapi dikendalikan oleh kelimpahan
merupakan sebuah bentuk penyembahan berhala (keserakahan). Tuhan tidak
melarang kita untuk memiliki kelimpahan tetapi Ia tidak ingin kita
menjadi orang yang sengsara oleh karena keserakahan.

Ketika berada di Calcutta, Miller diperingatkan untuk tidak memuji
barang-barang yang ada dia lihat di rumah-rumah yang dia kunjungi
sebab saudara-saudara seiman disana akan memberikan barang-barang
tersebut kepada orang yang memujinya. Kelimpahan materi tidaklah dapat
menjamin kebahagiaan seseorang malahan justru bisa membuat hidup orang
tersebut semakin menderita. Sikap hidup yang senantiasa mengucap
syukur dan berserah total kepada Tuhan merupakan kunci untuk menuju
hidup yang bahagia. Bila kita tahan uji dalam kesesakan padang gurun
ini maka segala keserakahan akan lenyap. Baru setelah itu kita siap
untuk menerima warisan yang telah disediakan oleh Bapa kita.

Tujuan utama Tuhan memberkati hidup kita bukan untuk kenikmatan
pribadi kita sendiri melainkan agar kita bisa memberkati orang lain.
gaya hidup yang bersifat konsumtif dan materialistis. Ingatlah bahwa
hidup kita ini bukan milik kita lagi sebab kita telah dibeli dan
harganya telah lunas dibayar (I Kor 6:20). Marilah kita
mempersembahkan diri kita secara total kepadaNya dan hidup hanya untuk
menyenangkanNya !

 

membongkar kesenangan

Sebuah Pelajaran Berharga dari Peristiwa Sederhana

Oleh: Adonia Gita Alfioni

Tanggal 23 Oktober lalu, saya mendapat tugas dari tante saya untuk mengantar adik sepupu ke placement test di sebuah lembaga yang terkemuka di Solo. Sebenarnya, saya mendapat tawaran lain yang lebih menyenangkan untuk saya kerjakan. Tetapi karena saya sudah berjanji, saya tetap harus mengantar adik saya yang blasteran Solo -– Papua itu (selingan). Jam setengah sembilan saya berangkat menuju lembaga itu dengan bekal dari mana–mana. Karena hari in kedua Om saya yang kembar ulang tahun, kami mendapat uang untuk jajan di luar dengan jumlah yang lumayan besar. Puji Tuhan.

Di akhir perjalanan, saya merasa ada sesuatu yang tidak enak dengan motor saya. Kemudian saya bertanya pada adik sepupu saya.

"Div, motornya kok tidak enak yaa... kamu ngerasa nggak?"

Adik sepupu saya menjawab dia tidak merasakan apa-apa. Setelah sampai di lembaga itu dan adik saya menuju ruang placement test, saya mengecek kembali motor saya. Ternyata ban (roda) belakang saya bocor. Biasanya kalau tahu motor saya bocor, saya akan sangat panik dan heboh. Tetapi entah mengapa saat itu saya sangat tenang, bahkan saya bisa bersyukur pada Tuhan. Puji Tuhan saya sudah sampai tempat tujuan, jadi adik saya tidak akan terlambat placement test.

Kemudian saya menelpon dan mengirim sms ke teman–teman saya yang bertempat tinggal di dekat daerah itu. Karena saya punya cukup banyak teman, saya tidak terlalu kesulitan untuk mencari informasi tambal ban. Ternyata di dekat lembaga itu ada tambal ban. Langsung saya ke sana dan menunggu ban belakang motor saya ditambal.

Rencana awal saya sebenarnya, sambil menunggu adik sepupu saya placement test saya akan pergi ke rumah teman SMA saya. Niatnya ingin bercerita banyak sama teman saya, eh, malah jadinya saya yang dicurhatin sama Bapak Tukang Tambal Ban :D. Tapi tidak jadi masalah, saya bersyukur bisa ngobrol dengan Bapak itu. Selain tambah pengalaman juga tambah wawasan tentang motor.

Saat si Bapak ini memperbaiki ban, saya memperhatikan dengan seksama. Dan berpikir, padahal ban luarnya kelihatan baik–baik saja, tidak ada cacat sedikit pun, tapi ban bagian dalamnya bisa berlubang. Betapa parahnya keadaan ban motor saya. Si Bapak Tambal Ban itu memperbaiki bagian dalam ban motor saya. Entah mengapa, pada saat itu saya berpikir, menganalisa, dan menghubungkan hal ini dengan keadaan hati manusia.

Pertama saya mengetahui bahwa ban saya bocor, dan saya bilang kepada si Bapak Tukang Tambal Ban ini kalau ban saya bocor, saya menyerahkan perbaikan ban saya itu kepada Bapak Tukang Tambal Ban. Seperti ban bocor yang membuat motor tidak dapat berjalan dengan baik, begitu juga dengan manusia, hati manusia yang bocor (mungkin karena dosa, kepahitan, dan lain–lain) membuat manusia tidak dapat bergerak dalam pertumbuhan rohaninya. Sehingga manusia perlu tahu apa penyebabnya dia tidak dapat berjalan baik dalam pertumbuhan kerohaniannya dengan meneliti hatinya, seperti saya meneliti ban motor saya. Kemudian dia juga harus mengakui di hadapan seorang Pribadi yang ahli di dalam permasalahan ini, yaitu Tuhan sendiri. Selain mengakui, manusia juga harus menyerahkan seluruhnya kebocoran ini pada Tuhan, bergantung penuh pada Tuhan dan percaya bahwa dia dapat memperbaiki dengan baik kebocoran itu.

Setelah Bapak Tambal Ban itu mengerti di mana letak kebocoran itu. Dia mulai memperbaiki ban itu. Dia menggosok dulu ban itu dengan sebuah penggaris besi, sehingga ban itu terkikis, dan menempel dengan potongan ban yang lain, dengan cara seperti membakar, tetapi sebenarnya tidak membakar. Mungkin api itu sengaja diciptakan oleh si Bapak Tukang Tambal Ban agar potongan ban yang lain menempel kuat dengan ban yang bocor itu.

Dalam perbaikan hati manusia, mungkin seolah Sang Ahli mengikis juga hati itu, sehingga juga akan menimbulkan rasa sakit bagi manusia. Juga mungkin, Tuhan membakar kesenangan–kesenangan manusia yang membuatnya tidak dapat bertumbuh dalam Tuhan. Tentu saja, ini sangat menyakitkan.

Saya pernah mengalami hal–hal ini, ketika Tuhan membakar semua kesenangan–kesenangan saya, dan seolah membuat saya meninggalkan zona nyaman saya. Saat itu saya berpikir, kenapa Tuhan seolah tidak membiarkan saya senang? Tetapi Dia terus menyakiti hati saya. Tapi kemudian saya mendapatkan jawaban setelah saya membaca suatu buku berjudul "Kedewasaan Rohani". Dalam buku ini, diceritakan bahwa Tuhan memperbolehkan anak-Nya mengalami kesulitan–kesulitan dan penderitaan–penderitaan untuk membentuk hati mereka, dan semua hal itu memang Tuhan lakukan untuk membuat mereka menjadi pribadi yang diinginkan Tuhan. Yah, sesuai dengan salah satu ayat terkenal selama ini bahwa semua yang Tuhan lakukan itu untuk kebaikan manusia sendiri.

Dalam proses perbaikan ini, manusia harus percaya penuh pada Tuhan dan melalui proses ini dengan taat dan setia, serta selalu memikirkan bahwa "rencana Tuhan itu baik, bahkan sangat baik, semua akan mendatangkan kebaikan."

Dan olala, ban yang sudah ditambal itu dapat membuat motor saya berjalan dengan baik lagi :D. Begitu juga manusia, ketika sudah merasakan ada suatu kebocoran segeralah datang kepada Sang Ahli dan injinkanlah Dia memperbaiki hatimu, sehingga kamu dapat kembali berjalan dalam kehidupan rohanimu.

Saya bersyukur bahwa dari peristiwa yang sangat sederhana dalam hidup saya Tuhan memberikan pelajaran berharga bagi saya. Apapun yang saya alami hari ini, esok dan seterusnya, saya tahu bahwa Engkau mengijinkan semua terjadi untuk membentuk saya. Amin.

Blog penulis: http://alfioniagita.blogspot.com/

 

kuasa doa

Kuasa Doa

Oleh: Ev. Margareth Linandi

Setiap pemimpin punya kuasa untuk berbuat sesuatu. Contohnya: seorang pemimpin punya kuasa untuk memimpin anak buahnya mengikuti kebaktian doa sebelum memulai pekerjaan dan memecat anak buahnya jika dia tidak taat pada pemimpin.

Bicara soal kuasa, percayakah kita bahwa perkataan kita mengandung kuasa? Ya benar. Kuasa untuk membangun dan untuk menjatuhkan. Contoh: ketika orang tua sering mengucapkan kata bodoh terus menerus pada anaknya, maka lama kelamaan anak itu menjadi bodoh.

Sama halnya dengan perkataan, doa kita pun bisa mengandung kuasa; untuk memulihkan atau menjatuhkan. Contoh: orang yang tekun berdoa dan mengamini doanya ketika ia berdoa, lama kelamaan sakitnya hilang dan ia sembuh kembali. Atau sebaliknya jika seseorang ragu akan doanya maka doanya tidak dijawab.

Ada beberapa tips agar doa mempunyai kuasa:

1. Akuilah dosa dan salah kita di hadapan Tuhan.

Manusia adalah makhluk berdosa dan dalam Roma 3:10 dikatakan "Tidak ada yang benar seorang pun tidak." Ini menunjukkan bahwa semua manusia berdosa dan dosa menghalangi Tuhan menjawab doa kita.

Doa akan berkuasa jika kita mengakui dosa kita sebelum meminta sesuatu pada Tuhan. Kalau masalah kita belum beres maka doa kita tidak akan dijawab Tuhan.

2. Saling mendoakan.

Berdoa bukan untuk kepentingan diri sendiri saja tetapi juga untuk orang lain.

3. Berdoa dengan iman.

Iman adalah kepercayaan kita kepada Tuhan. Yesus menginginkan agar kita mempunyai iman sebesar biji sesawi saja maka kita dapat memindahkan gunung. Maksudnya kalau kita punya iman yang kecil tapi kuat maka apa yang kita yakini akan terjadi.

Elia adalah contoh orang yang berdoa dengan iman.

1. Dia berdoa agar hujan tidak turun selama 3 1/2 tahun dan itu terjadi karena ia beriman.

2. Dia berdoa agar hujan turun, dan hujan pun turun. Semua terjadi karena ia tidak ragu.

Maukah doa kita berkuasa seperti Elia? Kita juga bisa asal kita percaya dan yakin dan doa kita akan menjadi kenyataan.

"Doa orang benar , bila dengan yakin didoakan akan sangat besar kuasanya." (Yakobus 5:16b).

 

peperangan rohani

Peperangan Rohani dalam Pelayanan Penginjilan

Oleh : Pdt. M.D. Wakkary

I.       MENGENAL MUSUH

Alkitab menjelaskan dengan pasti dan tegas bahwa gereja atau orang-orang percaya memiliki musuh.

Musuh itu bukanlah manusia atau suatu komunitas, tetapi Iblis. (I Petrus 5:8, Yakobus 4:7).

Iblis harus dilawan, diperangi, diusir dan dikalahkan.

Namun Iblis licik dan banyak muslihat (Efesus 6:8), karena itu kita jangan memberi peluang bagi Iblis (Efesus 4:27).

Kita harus mengetahui siasat Iblis. (2 Korintus 2:11).

Gereja berada dalam status perang terhadap Iblis. Oleh sebab itu kita harus faham seluk beluk taktik dan strategi Iblis, musuh kita.

A.  IBLIS MEMILIKI HIRARKI DAN RANGKING OTORITAS

Efesus 6:12. Ayat ini menguraikan 4 aras otoritas Iblis

yaitu :   1. pemerintah-pemerintah

            2. penguasa-penguasa

            3. penghulu-penghulu dunia gelap

            4. roh-roh jahat di udara.

 

B.  IBLIS MEMPUNYAI TERITORI (WILAYAH) KEKUASAAN

Selain memiliki aras-aras atau level kekuasaan, Iblis mempunyai wilayah-wilayah kekuasaan dengan penguasanya.

Daniel 10:13-20. Ada pemimpin kerajaan Persia, ada pemimpin orang Yunani.

Suatu otoritas yang mempengaruhi bangsa-bangsa dan negara-negara.

Matius 12:24-45, Markus 5:2-9.

Wahyu 2:13 – Kota Pergamus merupakan markas besar Iblis. Kota-kota dan desa-desa juga menjadi tempat Iblis beroperasi.

 

C.  IBLIS MEMILIKI STRATEGI "KETIDAK BENARAN"

Strategi Iblis, apapun taktik, kemasan, bentuk dan labelnya, intinya atau isinya adalah ketidak benaran, pemalsuan fakta, penipuan dan kebohongan.

Perhatikan : Kejadian 3:1-5, Matius 4:3-10.

Strategi Iblis yang licik dalam memanipulasi tujuan akhirnya adalah : mencuri, membunuh dan membinasakan.(Yohanes 10:10)

Karena kita tidak boleh terperdaya, dengan apapun kemasannya Iblis selalu dan selalu adalah bapa segala dusta. (Yohanes 8:44).

Perhatikan kemampuan sandiwara Iblis, karena ia dapat berperan sebagai domba, malaikat terang, dan mahluk sangat cerdik, padahal ia adalah monster yang buas dan sadis.

 

 

II.      MEDAN PEPERANGAN ROHANI

Francis Frangipane dalam bukunya berjudul "The Three Battlegrounds" (Tiga Medan Perang) menguraikan bahwa medan peperangan rohani terdiri dari tiga jenis :

1.     Medan perang Pikiran

2.     Medan perang Gereja

3.     Medan perang Tempat-tempat sorgawi

 

Dalam medan perang Pikiran kita harus sadar bahwa wilayah kekuasaan Iblis adalah alam kegelapan. Pikiran kita adalah tempat selalu diincar oleh Iblis untuk dikuasai. (Markus 7:21).

Medan pikiran penting, karena  pikiran kita sangat berkuasa. (Amsal 23:7).

Semua bermula di pikiran. Dalam penginjilan, kita membawa pedang firman Allah menaklukkan pikiran manusia kepada Kristus.

Pertobatan adalah pembaharuan pikiran. (Roma 12:1).  

Menurut Francis, kubu atau benteng pertahanan manusia untuk melawan Injil bersumber dari tiga  hal:     -    Kubu I   = Dunia

-        Kubu II  = Pengalaman-pengalaman kita

-        Kubu III = Doktrin-doktrin yang salah

 

 

Sumber pertama adalah dunia di mana kita dilahirkan.

Arus yang deras dari berbagai informasi dan pengalaman yang secara terus menerus membentuk persepsi kita sejak kanak-kanak adalah sumber terbesar dari kubu pertahanan Iblis dalam diri kita.

Ketiadaan kasih dalam keluarga, dalam lingkungan budaya kita, tekanan-tekanan dan perubahan-perubahan nilai yang selalu membingungkan dan mengkuatirkan, semuanya berkombinasi membentuk identitas pandangan hidup kita.

Pengaruh keduniawian semakin dominan karena pengaruh film, televisi, komputer, internet, dll.

Sumber kedua, ialah pembentukan benteng yang terbangun oleh pengalaman-pengalaman dan konklusi logika yang kita pegang. Percaya diri akibat pengalaman, sering menolak kepercayaan dan ketergantungan total kepada Kristus.

Sumber ketiga, ialah doktrin-doktrin dan pengajaran-pengajaran yang keliru dan palsu. Kita harus berpegang kepada kemurnian pengajaran Alkitabiah, bukan kepada interpretasi yang salah atau pada fanatisme individu.

 

 

III.     MERUNTUHKAN BENTENG-BENTENG

Suatu pandangan lain tentang kubu-kubu atau benteng-benteng pertahanan Iblis, saya petik  dari bukunya Gary Kinnaman "Overcoming the Dominion of Darkness" yang memberikan defenisi bagus tentang tiga tipe perbentengan :

1.   Benteng-benteng teritorial : Gambaran hirarkhi dan aras (level) mahluk-mahluk kegelapan yang mendapat tugas strategis dari setan untuk mengontrol bangsa-bangsa, komunitas masyarakat dan keluarga-keluarga. Pasukan demonik (roh-roh jahat) tertentu menyerbu ke berbagai wilayah-wilayah untuk membentengi jenis-jenis kejahatan khusus.

Kota-kota tertentu menjadi benteng-benteng penyembahan berhala, dosa sensual atau jenis-jenis tertentu dari roh-roh agamawi.

 

2.   Benteng-benteng Ideologis : Kekuasaan setan yang berpengaruh kuat kepada suatu pandangan atau filsafat hidup yang mempengaruhi kebudayaan dan masyarakat. Misalnya Teori Charles Darwin tentang seleksi alamiah, Karl Marx dengan faham komunisme. Atau the New Age Movement yang digandrungi kaum intelektual liberal maupun adat istiadat yang dianut oleh masyarakat primordial. 

 

3.   Benteng-benteng Pribadi : Suatu hal yang setan bangun untuk mempengaruhi pribadi manusia, menjadi dosa pribadi yaitu dalam pikiran-pikiran, dalam perasaan-perasaan, dalam sikap-sikap manusia dan pola-pola perilaku.

 

Benteng-benteng merupakan tempat-tempat perlindungan dibangun oleh setan dalam diri manusia, dalam pikiran manusia.

Kita harus perangi, kita harus tawan dan kita harus taklukkan kepada Kristus. (2 Korintus 10:4-5).

 

IV.    TARGET IBLIS : PARA GEMBALA SIDANG, PENGINJIL DAN KELUARGANYA

Dr. Peter Wagner dalam bukunya "Warfare Prayer" menguraikan 3 tingkat peperangan rohani :

1.     Peperangan Rohani Tingkat Dasar            : Melawan ikatan-ikatan dosa yang memerlukan

                                                                      pelayanan pelepasan.

2.     Peperangan Rohani Tingkat Okultisme       : Melawan para praktisi okultisme, kemistikan,

  kebatinan, pelaku kegaiban, pedukunan, dan 

  sejenisnya.

3.     Peperangan Rohani Tingkat Strategis        : Melawan penguasa teritorial, penghulu alam

                                                                       kegelapan, pejabat tinggi kerajaan gelap.

Dalam perang tingkat strategis, Iblis menggunakan kekuatan dan senjatanya yang strategis pula. Targetnya : para gembala sidang, para penginjil dan keluarganya.

Banyak keluarga hamba Tuhan kacau balau. Sang pendeta atau penginjil terjerat skandal seks atau keuangan. Anak-anaknya terlibat narkoba atau tindakan kriminal.

Ada rumah tangga hamba Tuhan pecah berantakan. Perkawinan yang kocar-kacir. Di negara maju ada beberapa penginjil terkenal bangkrut dan terlilit hutang besar. Betapa tragisnya, pendeta yang selalu beritakan berkat, kesejahteraan dan kelimpahan, akhirnya jatuh miskin, lalu dinyatakan gerejanya atau yayasannya pailit.

 

 

V.     PARA PENGINJIL HARUS MAHIR DALAM "BERTEMPUR"

Penginjilan itu sendiri sudah berarti terjun ke arena peperangan rohani. Sebab penginjilan berarti kita sedang mempergunakan senjata ofensif (menyerang) yaitu pedang Roh, Firman Allah, Injil seutuhnya.

Kita harus memiliki senjata yang tajam. Penginjil harus selalu menajamkan pedangnya. Besi menajamkan besi, orang menajamkan sesamanya (Amsal 27:12).

Para penginjil dapat belajar dari penginjil lain yang Tuhan pakai lebih dari kita.

Pedang harus diminyaki selalu. Tim penginjilan harus selalu dibaharui urapan Roh Kudus.

Kalau pedang tumpul, penginjilan tidak memakan habis energi, dana, dan publikasi, namun hasilnya sedikit  sekali atau nol.

Penginjil kalau menyerang, harus tidak alpa dengan pertahanannya yaitu perisai, ketopong, baju jirah, dll.

Dari semua daftar persenjataan rohani dalam Efesus 6:13-18, yang tiga kali disebut adalah doa, doa, dan doa.

Kita harus menjadi petempur-petempur yang handal dan mahir menggunakan senjata rohani.

Saya merekomendasikan para penginjil, para gembala sidang, tim penginjilan dan tim pelayanan, untuk membaca buku "Prayer Shield" (Perisai Doa) tulisan Dr. Peter Wagner dan "Pressing The Gates of the Enemy" (Menduduki Kota-kota Musuh) karangan Cindy Jacobs. Suatu buku menarik berjudul "Taking our cities for God. How to break Spritual strongholds, (Merebut Kota bagi Allah) tulisan John Dawson, menguraikan pentingnya belajar "berperang" dan lima langkah menuju kemenangan peperangan rohani.

 

 

VI.    PASUKAN DOA

Saya kurang setuju kalau di panitia-panitia gerejawi ada seksi doa. Seksi panitia hanya berkonotasi  pekerjaan tehnis. Padahal doa adalah strategi perang gereja yang hanya dapat dilakukan oleh suatu pasukan petempur rohani.

Gereja zaman akhir ini harus memiliki pasukan doa yang para-komando (seperti marinir, raiders, kopasus, brigade mobil, dll). Karena setan pada akhir zaman tidak lagi berlakon sebagai ular, serigala atau singa mengaum, melainkan sebagai monster binatang naga merah padam yang buas mengerikan. (Wahyu 12:3). Pada akhir zaman terorisme setan mencapai puncaknya yaitu di zaman 3 ½ tahun tribulasi. Antikris menguasai dunia politik, ekonomi dan keuangan, agama, budaya dan militer.

Kita kini harus siap berkonfrontasi tingkat strategis melawan setan. Pasukan-pasukan doa harus dibentuk dan dilatih.

Para gembala sidang harus memiliki kelompok pasukan khusus doa. Para penginjil harus punya pasukan doa.

Tim penginjilan harus solid dan merupakan pasukan doa.

Doa satu jam adalah limit terendah. Pasukan doa harus berdoa berjam-jam dan berpuasa berhari-hari, untuk hasil penginjilan yang signifikan.

Menjangkau kaum Nebayot dan Kedar memerlukan otoritas yang besar.

Okultisme tingkat global harus diperangi dengan jaringan penginjilan dan doa global.

Sebelum dan pada saat penginjilan dilakukan pasukan doa harus lebih berperan. Kita, kata tema GPdI, ingin menuai global tetapi bagaimana mencapainya kalau persiapan hanya sampai tingkat kampung.

Peperangan rohani tingkat strategis dialami Daniel dalam kitab Daniel pasal 10.

Seorang penginjil yang merangkap gembala sidang harus merekrut tentara doa dari dalam sidang jemaat. Penginjil full-time wajib terhisab dalam suatu jemaat lokal, untuk basis dukungan rohaninya. 

Pasukan (istilah lunaknya : Kelompok khusus) Doa bisa terbagi dalam tim-tim atau regu-regu, yang berdoa (berjaga) nonstop 24 jam, siang dan malam, untuk waktu tertentu (satu minggu sampai 21 hari). Menara Doa, bukanlah tower bangunan, tetapi kesiapsiagaan doa baik siang maupun malam, secara beregu.

Doa – Puasa tiga hari secara berkelompok bergilir 21 hari sebelum penginjilan dan sementara penginjilan, kini banyak dilakukan.

Pasukan doa yang combat-ready di dekat panggung penginjil selama penginjilan atau KKR berlangsung sangat efektif mendukung atmosfir bagi Roh Kudus berkarya. 

Kita ingin menyaksikan mujizat-mujizat luar biasa, karena itu doanya harus lebih dari luar biasa.

Juga ada Doa keliling dalam kota, doa keliling dalam arena tempat penginjilan.

Doa-Puasa semalaman lintas gereja untuk suatu revival  besar seperti yang terjadi di Columbia, sungguh diperlukan.

KKR besar Peter Youngren, seperti terjadi di Medan, Bandung, dan kota lain, menggemparkan kaum Kedar. Karena tim yang sudah duluan bergerak.

Kita ingin menyaksikan dalam skala yang lebih besar lagi di masa mendatang.

Penginjil Reinhard Bonke memiliki Tim Pendoa Syafaat yang kuat. 

Peperangan rohani bukan teori atau sistem, tetapi praktek.

Saya pribadi harus mengakui masih "minder" berbicara tentang pasukan doa yang siap tempur.

Tetapi dalam sidang jemaat yang saya gembalakan sudah ada kelompok yang bernama PELDOFAT (Pelayanan Doa Syafaat).

   

 

VII.   PASUKAN PUJIAN

Barisan musik dan pujian unsur sangat vital dalam proses penginjilan dan peperangan rohani.

Sejarah Benteng Jeriko dirobohkan (Yosua 6) dan Kemenangan spektakuler Raja Yosafat terhadap koalisi Moab, Amon dan Seir (2 Tawarikh 20), adalah contoh-contoh peran signifikan pasukan pujian.

"Worship Team"  (para penyanyi, worship leader dan musisi) harus berada dalam urapan Tuhan. Mereka harus merangkap sebagai pasukan doa. Mereka harus dikhususkan.

Tim Pujian yang kudus dan diurapi menciptakan atmosfir Roh Kudus bekerja.

Penginjil-penginjil terkenal seperti Benny Hinn memiliki Worship Team, Choir dan Musisi yang sepenuhnya full-time.

Jemaat-jemaat yang bertumbuh melalui penginjilan di Korea, di RRT, di Amerika Latin, di Afrika dan kini di India, terkenal memiliki pendoa-pendoa syafaat yang berkomitmen  tinggi dan juga barisan musik dan penyanyi yang terlatih dan mahir.

   

 

VIII.         PEPERANGAN ROHANI AKAN TERUS MENINGKAT

Iblis sangat paham bahwa waktunya sudah sangat singkat.

Ia beroperasi secara besar-besaran, lebih mentakjubkan manusia, tetapi juga akan sangat mengerikan.

Tetapi gereja Tuhan akan lebih bersinar lagi. Puncaknya dalam Wahyu 12, gereja sempurna berjubahkan cahaya gilang gemilangnya matahari. Sangat mulia dan dahsyat. Mendahului itu revival-revival akan kita alami secara amat perkasa dan gereja akan menuai global. Kemenangan demi kemenangan akan selalu dan pasti terjadi.

"Tetapi syukur bagi Allah, yang dalam Kristus selalu membawa kami di jalan kemenangan-Nya". (2 Korintus 2:14).

Bagi mereka yang ingin lebih mendalami teologi peperangan rohani saya menganjurkan memiliki buku "The Handbook of Spiritual Warfare" yang disusun oleh DR. Ed Murphy.

http://gpdimaranatha.org/gembala/makalah-pelajaran-alkitab/396-peperangan-rohani-dalam-pelayanan-penginjilan.html